Polisi memastikan bahwa terduga pelaku serangan pisau terhadap tiga anggota polisi di sebuah jalan di kawasan Cikokol, Tangerang, Provinsi Banten, telah tewas akibat kehabisan darah.
"Tersangka meninggal dunia tadi siang karena kehabisan darah ketika dilarikan ke...
rumah sakit," kata Kadiv humas Mabes Polri, Irjen Boy Rafli Amar.
Terduga pelaku penikaman berinisial SA akhirnya ditembak di perut dan kakinya oleh polisi, setelah dia menyerang terlebih dahulu terhadap tiga anggota polisi, termasuk Kapolsek Tangerang.
Serangan pisau di Cikokol berlatar "terorisme"
Serangan "bom" dan pisau di gereja Medan digagalkan jemaat
Terduga pelaku serangan di gereja Medan "terinspirasi" teror Prancis
Menurut polisi, pria berusia 22 tahun itu menyerang "secara brutal" dan secara tiba-tiba terhadap dua anggota polisi lalu lintas yang sedang bertugas di dekat pos polisi di Jalan Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, Tangerang.
Kapolsek Tangerang, yang datang ke lokasi kejadian, berusaha membantu dua rekannya yang tertusuk, namun juga diserang oleh pelaku, ungkap Boy. Ketiganya kini dirawat di rumah sakit.
"Video amatir"
Dalam video amatir yang ditayangkan Metro TV, terduga pelaku - yang terlihat dalam kondisi terluka - menjelaskan motif serangan terhadap anggota polisi lalu lintas.
Ditanya oleh seseorang, dalam tayangan video itu, pria kelahiran 1994 itu mengaku mengincar pistol milik polisi untuk kemudian digunakan untuk menyerang "toghut".
Thogut adalah istilah yang acap digunakan kelompok radikal Islam untuk menggambarkan rezim pemerintah yang dianggap tidak sesuai keyakinan mereka.
Dengan kalimat pendek-pendek, pria itu juga menjelaskan bahwa dirinya memiliki saudara yang menjadi anggota polisi. Melalui saudaranya itulah, dirinya mencuri peluru.
Sampai sekitar pukul 16.00 WIB, BBC Indonesia belum bisa mengkonfirmasi kebenaran video tersebut.
"Bergerak sendiri"
Lebih lanjut Boy Rafli mengatakan, temuan sementara kepolisian menunjukkan bahwa pelaku "terpengaruh dampak pemikiran radikal" akibat berinteraksi dengan sejumlah pihak.

Diduga kuat pelaku serangan bertindak atas inisiatif sendiri. "Dugaan sementara, dia bergerak sendiri," kata Boy Rafli.
Karena itulah, polisi belum menemukan bukti-bukti yang mengarah keterkaitan pelaku serangan dengan jaringan teror yang ada.
"Belum ada kaitan yang rinci apakah dia bergabung dengan orang-orang jaringan teror, tapi dia pernah belajar agama di sebuah tempat di daerah Ciamis," katanya, tanpa merinci lebih lanjut.
Ditanya tentang temuan stiker logo kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di pos polisi di lokasi serangan di Cikokol, Boy mengatakan, "Belum ada kesaksian yang mendukung."
Aksi penikaman yang dilatari paham pemikiran radikal sebelumnya terjadi di Medan, Agustus 2016 lalu.
Temuan polisi menyebutkan pelaku terinspirasi serangan "aksi teror di Prancis" melalui media sosial.
Ketika itu, pelaku yang berinisial IAH berusaha menikam seorang pastur di sebuah gereja Katolik di Medan, yang melukai lengannya.