Potongan kertas kecil kotak ini bisa mengubah hidup Anda

Urusan tukar menukar yang sederhana ini bisa jadi urusan memalukan kalau kita melakukannya dengan keliru.
Walter Faulstroh, salah seorang pendiri HUM Nutrition, mengatakan ia akhirnya berhasil menemukan seni tukar menukar kartu nama sesudah beberapa tahun tinggal di Paris, London, dan kini Los Angeles.
Ini berarti ia harus menyesuaikan pendekatannya, tergantung dengan siapa ia bertemu dan di mana.
- Apa yang Anda tak ketahui tentang menjadi bos
- Perlukah mengganti nama demi mendapatkan pekerjaan?
Di Eropa, kata Faulstroh, kartu nama cenderung dipresentasikan dengan formal -sebagaimana hal itu selalu dilakukan- pada saat perkenalan, lalu segera dimasukkan ke dalam saku.
Namun di Pantai Barat Amerika Serikat, lain lagi.
Sebagai bagian dari para pelaku bisnis startup, Faulstroh biasanya menunggu diperkenalkan secara resmi, tapi jika itu tak terjadi, ia tak merasa perlu memberi kartu namanya.
Bahkan bisa terasa ekstrem, ketika dalam sebuah konferensi bidang teknologi, jika Anda mengeluarkan kartu nama, mereka akan memandang Anda seakan berasal dari planet lain.
Dalam situasi seperti ini, ia biasanya cepat menindaklanjuti dengan menghubungi mereka lewat LinkedIn atau media sosial lain untuk memastikan kontak mereka.
Mengapa "offline" harus dibesar-besarkan
Permintaan konsumen Cina mendorong industri baru
Jika kita sudah menjadi manusia yang lahir di zaman digital atau "digital natives", kenapa masih relevan membawa sepotong kertas kecil kartu nama?
Lebih dari sekadar tukar menukar rincian kontak kita, kartu nama bisa membantu dengan memberi kesan pertama yang penting, bisa menjadi pemecah kebekuan komunikasi, menarik perhatian seseorang, bahkan bisa meningkatkan kepercayaan diri, kata para ahli.
Panduan global
Melakukan bisnis di beberapa bagian Asia, Amerika Latin dan bahkan Eropa Selatan berarti berarti masih mengadopsi pendekatan tradisional.
"Tukar menukar kartu nama masih menjadi sebuah ritual," bahkan ketika terasa berlebihan di jaman media sosial, kata Sebastian Reiche, assistant professor di IESE Business School di Barcelona.
"Kami masih mencetak kartu nama, tapi sebenarnya kami tak sungguh-sungguh membutuhkannya."
Di Cina daratan, Michael Michelini asal Amerika, seorang tenaga penjual yang berkantor di Shenzhen, belajar untuk memberi kartu nama dengan kedua tangannya, sambil menghadapkan kartu ke orang yang diberi kartu itu.
Ia juga memastikan bahwa untuk melihat sebentar ke kartu yang diberikan kepadanya, lalu memasukkannya kemana saja, kecuali ke saku belakang celananya, ini pantangan besar.
Sekarang ini ia berhati-hati saat memperhatikan detil yang tertulis di kartu (ini memperlihatkan sikap hormat kepada si pemberi) sesudah menerima kartu itu.
Bahkan sesudah 10 tahun di Cina, "Saya masih belum terlalu baik dalam memberi perhatian," katanya.
"Biasanya perhatian saya teralihkan." Keseluruhan ritual ini berarti menghormati si pemberi kartu nama dan masih dipraktekkan di sebagian besar negara-negara di Asia.
Bagaimana keingintahuan dapat melindungi pikiran dari prasangka
Kenapa Anda selalu merasa sibuk (meski sebenarnya tidak)
Di negara-negara di mana aturan bisnis tradisional berlaku, kartu nama masih berlaku sebagai pengingat status, kata Reiche.
"Dalam budaya dimana hirarki masih menjadi hal penting, orang ingin memperhitungkan bagaimana berinteraksi dengan Anda," katanya.
Nicole Dyer Griffith, seorang konsultan protokoler internasional yang berkantor di Trinidad, menyarankan kepada kliennya di luar negeri untuk mengikuti orang paling senior di dalam kelompok.
Contohnya, di beberapa budaya tukar menukar kartu nama dilakukan di akhir pertemuan, sementara di beberapa negara perkenalan dilakukan lewat tukar menukar kartu nama.
Menarik bagaimana hal itu kedengarannya bagi para pelaku bisnis di Amerika atau Inggris, dan mengabaikan praktik seperti ini bisa berpotensi merusak keseluruhan transaksi bisnis.
Ia menambahkan, penting untuk mengikuti etiket sebisa mungkin.
Bahkan selera dalam desain berbeda jauh di seluruh dunia, menurut Chad Jennings, direktur produksi di Moo, perusahaan desain dan percetakan kartu nama yang berkantor di Inggris.
Tidak seperti di Inggris dan di Eropa, kartu yang lebih tipis -bukannya lebih tebal- merupakan tanda bagi kemewahan di Cina dan Jepang, katanya.
Di Cina, kartu cenderung untuk diisi dengan teks, sementara di Swiss dan Jerman kartu lebih banyak kosong, langsung mengarahkan perhatian pada hal terpenting tanpa bercakap banyak tentang pencapaian karier.
Di Inggris, tepian emas merupakan desain paling popular karena memberi kesean kemewahan, katanya.
Maka kartu nama belum sepenuhnya mati. Bahkan sedang mengalami peningkatan peran.
Tahun lalu, Moo meluncurkan kartu nama dengan teknologi NFC atau near-field communication.
Kartu ini juga disebut sebagai kertas cerdas karena bisa menyimpan data atau dipindai oleh telepon pintar dan alat elektronik lain.
Meskipun kartu ini masih sedikit saja dari penjualan Moo, Jennings mengatakan ide ini pelan-pelan mulai diterima. "Orang menggunakannya dengan cara yang unik," katanya.
Paranoid? Ini mungkin jadi kunci kesuksesan Anda
Kutukan di balik jam kerja fleksibel
"Beberapa bahkan menyamakan kartu nama dengan daftar lagu di Spotify kita," kata Jennings.

Kartu nama
Pada bulan Maret 2016, perusahaan ini juga meluncurkan Monogram by Moo, sebuah app yang berfungsi sebagai kartu nama digital yang membuat penggunanya bisa berbagi portfolio di telepon pintar mereka dan mengirimkannya secara elektronik, dan bisa diperlihatkan "untuk bercerita" sebagai tambahan dari kartu nama biasa.
"Anda bisa menarik kartu ini dari saku dan memberikannya kepada seseorang," katanya.
Michelini mengatakan bahwa bisnis kartu nama sekarang meliputi kode QR di aplikasi WeChat di belakangnya yang membuat pengguna media sosial asal Cina itu memindai kartu itu dan langsung terhubung secara online.
Kerap, sebagai pengganti kartu nama, ia menampilkan kode QR lewat telepon pintar lalu kode itu dipindai oleh rekanan bisnis.
Praktik seperti ini popular di kalangan pebisnis Cina dan lebih diminati ketimbang kartu nama tradisional karena secara otomatis langsung menjamin terjalinnya hubungan online, tambahnya.
Namun "tidak semua orang berada dalam tingkat yang sama dalam soal teknologi," kata Dyer Griffith.
Bagi kebanyakan pelaku industri tertentu, pertukaran kartu nama terasa sama pentingnya dengan jabat tangan.

  • sk
  • 2016-10-19 00:00:00
  • Home