Dari Hobi Berkebun, Jadi "Pionir" Organik

Bayangkan asyiknya memasak tanpa perlu repot-repot berbelanja di pasar dan supermarket terlebih dahulu. Cukup memetik bahan baku segar dari kebun organik di pekarangan rumah sendiri.
Ini lah yang dilakukan oleh Joanna Nalapraya Lasmono, ibu rumah tangga yang pernah memandu program masak Rasamasa.com. Lebih enak punya (kebun organik) sendiri, lebih praktis daripada beli,
Sekalipun tinggal di Four Seasons Residences yang tidak berpekarangan, Joanna tidak kehilangan akal. Berbekal hobi berkebun sejak kecil, ia menyulap empat balkon apartemennya menjadi kebun organik yang rimbun dengan 30 tanaman.
Ke-30 tanaman itu termasuk dill, thyme, rosemary, basil, mint, pandan, ruku ruku, sirih merah, daun jintan, daun suji, daun laksa, daun kari, daun salam, kale, kencur, wortel, jeruk limo, daun jeruk, okra merah, cabai, lidah buaya, lemon, keji beling.
Joanna beralasan, tinggal di apartemen berbeda dengan rumah di lahan horizontal yang bisa sebentar-sebentar berbelanja ke pasar atau supermarket atau penjual sayur mayur keliling. Maka ia menyiasatinya dengan berkebun organik di balkon.
Daripada naik turun (lift) atau pesan lewat Go-Jek, kata Joanna. Lagipula, menurut putri mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini, harga pangan organik di pasaran lebih mahal dan harus membeli dalam jumlah banyak, misalnya mint.
Maka Joanna lebih memilih untuk memelihara sendiri tanaman organik di rumah. Yang penting, ia menegaskan, mengerti cara berkebun, rajin merawat kebun organik setiap hari, dan menempatkannya di area yang terkena sinar Matahari.
Tak kalah penting, memperhatikan serangan hama. Kalau baru sedikit, hama bisa dibasmi sendiri. Kalau sudah kadung banyak, bakal sulit dibasmi, kata Joanna yang gemar membeli bibit tanaman organik di pameran atau via toko online.
Ini juga dialami Eureka Prawitasari, pegawai sebuah hotel bintang lima yang berdomisili di sebuah perumahan di kawasan Karawaci, Tangerang. Agak repot membuat pestisida alami untuk kebun organik.
Biasanya, Sari menggunakan bawang putih untuk mengusir belalang. Sementara soal perawatan kebun, diakui Sari, gampang sekali. Cek rutin pH balance saja. Cek hama belalang, kata Sari yang gemar membuat salad dari kebun sendiri.
Terlepas soal hama, perempuan yang akrab disapa Sari ini mengaku senang-senang saja berkebun organik—vertikultur—di rumah. Karena senang bertanam, jadi melakukan dengan hati senang. Selebihnya, tidak ada tips dan trik khusus.
Sari tertarik bertanam organik sejak beberapa tahun lalu karena alasan kesehatan. Setelah anggota keluarganya menjalani operasi pengangkatan kista payudara, dokter menyarankan untuk menghindari makanan olahan dan memilih makanan organik.
Sejak itu, kata Sari, kami sekeluarga mengikuti pola makan food combining, beralih ke sayuran dan buah-buahan organik. Ternyata, manfaatnya sangat terasa. Diakui Sari, tidak gampang terkena flu. Alarm tubuh pun lebih aktif.
Selain itu, kebutuhan akan sayuran meningkat. Selain dibuat masakan, sayuran dari kebun sendiri juga dibikin jus segar, setiap malam. Soal rasa, menurut Sari, sama saja. Yang pasti jauh lebih murah dan percaya tanaman sendiri pasti organik.
Sari yakin, Jika semua orang menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik, bisa jadi sepuluh tahun ke depan rumah sakit akan sepi, pengidap penyakit kanker akan berkurang drastis. Pola hidup sehat jadi tabungan kita buat masa depan.
Namun menurut Tantyo Bangun, co-founder toko pangan organik online Kecipir.com, mengonsumsi pangan organik saja tidak lah cukup. Tetap berolahraga dan istirahat yang cukup. Itu mutlak, katanya kepada CNNIndonesia.com.
Hidup sehat itu, Tantyo menambahkan, proses yang harus dijaga terus menerus, tidak bisa instan, dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan baik. Pangan organik membantu proses itu. Porsi juga terjaga dan lebih mengutamakan sayur serta mengurangi daging.
Lebih lanjut, Chairperson International Animal Rescue (IAR) Indonesia, ini menegaskan, Sebaiknya gaya hidup sehat itu harus ditingkatkan menjadi cara hidup sehat, jadi memang hidup sehat sebaiknya bukan menjadi gaya tetapi keseharian.

  • sk
  • 2016-11-20 00:00:00
  • Home